JAKARTA - Dunia intelijen internasional kembali geger. August Hanning, mantan kepala Badan Intelijen Federal Jerman (BND), resmi ditangkap pada usia 80 tahun. Pria yang memimpin BND periode 1998-2005 ini dituduh melakukan spionase pengkhianatan dengan membocorkan rahasia negara ke dinas intelijen asing sejak 2010 silam.
Jaksa federal menyatakan Hanning diduga kuat telah menyerahkan sekitar 2.000 dokumen sensitif. Dokumen tersebut ia dapatkan dari seorang mantan kepala biro yang juga telah ditangkap. Kasus ini menjadi pukulan telak bagi institusi intelijen Jerman, mengingat Hanning adalah orang nomor satu yang pernah memegang kendali operasi rahasia negara.
Namun, Hanning bukanlah satu-satunya pejabat tinggi intelijen yang berkhianat. Sejarah mencatat sederet nama legendaris yang berkhianat pada negaranya sendiri. Salah satunya adalah Kim Philby, perwira intelijen Inggris yang diam-diam bekerja untuk Uni Soviet selama puluhan tahun.
Philby direkrut saat kuliah di Cambridge pada 1930-an sebagai bagian dari kelompok mata-mata 'Cambridge Five'. Ia sempat menduduki posisi strategis di MI6 dan ditempatkan di Washington DC, yang memberinya akses ke informasi sensitif CIA dan FBI. Aksi Philby disebut-sebut sebagai kebocoran terburuk dalam sejarah Inggris karena ia membocorkan identitas agen, riset atom, hingga rencana operasi rahasia selama hampir 20 tahun.
Akibat perbuatannya, banyak operasi Barat menggagalkan upaya penggulingan komunis di Albania dan menyebabkan agen Soviet seperti Constantin Volkov dieksekusi di Moskow. Philby akhirnya melarikan diri ke Rusia pada 1963 dan meninggal pada 1988. Kasus Hanning dan Philby menjadi pengingat bahwa ancaman terbesar seringkali datang dari dalam lingkaran kepercayaan sendiri.