SINYAL KOMPROMI NUKLIR AS DI TENGAH PERANG - Berita Dunia
← Kembali

SINYAL KOMPROMI NUKLIR AS DI TENGAH PERANG

Foto Berita

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, memberikan sinyal baru terkait negosiasi nuklir dengan Iran. Ia meminta Iran untuk melakukan pengurangan kapasitas pengayaan uranium secara 'bermakna' sebagai syarat untuk mengakhiri konflik. Permintaan ini dianggap sebagai pelunakan sikap Washington yang sebelumnya bersikeras agar Tehran meninggalkan pengayaan uranium sepenuhnya.

Namun, sinyal ini datang bersamaan dengan retorika keras dari pejabat tinggi AS lainnya. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sementara Presiden Donald Trump memperingatkan perang akan berakhir dengan 'cara yang baik atau cara yang tidak baik'. Di sisi lain, Tehran meragukan keseriusan AS untuk bernegosiasi, terlebih saat perang AS-Israel memasuki bulan kedelapan.

Pengamat internasional menilai bahwa isu nuklir sebenarnya bukan hambatan utama. Negosiator Iran lebih fokus pada pencabutan sanksi, pembekuan aset, blokade laut AS, dan pertempuran di kawasan. Meskipun Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen—di bawah ambang batas senjata 90 persen—badan nuklir PBB tidak menemukan indikasi program senjata yang terstruktur. Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi stabilitas global dan harga minyak dunia, sementara masyarakat Iran terus menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat sanksi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook