Setelah penantian panjang, Israel akhirnya menyerahkan 15 jenazah warga Palestina kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Langkah ini menjadi penutup babak pertukaran jenazah, menyusul ditemukannya sisa-sisa jasad sandera Israel terakhir, Ran Gvili, seorang polisi yang tewas dalam serangan 7 Oktober 2023 lalu.
Penyerahan jenazah warga Palestina ini diharapkan dapat meredakan sedikit ketegangan, meskipun hingga Kamis, otoritas Palestina masih berkoordinasi apakah jenazah akan diserahkan di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis atau di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza. Ran Gvili sendiri telah dimakamkan pada Rabu lalu, dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melabelinya sebagai "pahlawan Israel" dan memberikan peringatan keras kepada pihak yang berani menyerang lagi.
Meski pertukaran sandera dan jenazah telah mencapai titik akhir untuk kasus Ran Gvili, konflik kemanusiaan di Gaza masih jauh dari kata usai. Ribuan warga Palestina dilaporkan masih mendekam di penjara-penjara Israel, banyak di antaranya tanpa tuduhan atau proses pengadilan yang jelas. Laporan dari Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) pada Juli 2024 menyebut sekitar 9.400 warga Palestina ditahan sebagai "tahanan keamanan", seringkali tanpa alasan yang jelas, di fasilitas yang rawan penyiksaan dan kekerasan seksual.
Mirisnya, organisasi Physicians for Human Rights-Israel pada November lalu juga merilis laporan yang mengungkapkan sedikitnya 94 tahanan Palestina meninggal dunia dalam penahanan karena berbagai sebab seperti penyiksaan, kelalaian medis, gizi buruk, hingga penyerangan. Beberapa jenazah yang dikembalikan sebelumnya bahkan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan mutilasi, mengindikasikan pelanggaran hak asasi manusia yang serius.
Di sisi lain, harapan baru muncul terkait masa depan Gaza. Warga kini menantikan pembukaan kembali perlintasan Rafah antara Gaza dan Mesir, yang terus didorong oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Washington. Kesepakatan ini juga membuka jalan bagi transisi politik di Gaza, dimulai dengan pembentukan komite teknokrat Palestina yang akan mengurus tata kelola harian wilayah tersebut. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan kesiapan kelompoknya untuk menyerahkan pemerintahan Gaza kepada komite tersebut, menunjukkan adanya potensi perubahan signifikan di lanskap politik dan kemanusiaan Gaza ke depan.