Pesta demokrasi Amerika Serikat (AS) atau midterms tahun ini menelan biaya fantastis, mencapai hampir 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp186 triliun. Mayoritas dana tersebut digelontorkan untuk kampanye kandidat Partai Republik. Namun, strategi mahal itu tidak membuahkan hasil.
Para pemilih justru memberikan pukulan telak. Partai Demokrat berhasil menyapu bersih kemenangan dengan skala yang belum pernah terjadi dalam setengah abad terakhir. Kekalahan telak ini dianggap sebagai bentuk penolakan publik terhadap gaya politik Presiden Donald Trump dan kebijakan luar negerinya, termasuk dukungan terhadap perang AS-Israel melawan Iran.
Dampak dari kekalahan ini membuat Trump kehilangan kendali atas narasi publik. Meski ia dikenal piawai mengubah kontroversi menjadi tontonan, kali ini opini publik dan media tampaknya berpihak pada perubahan. Sementara itu, di belahan dunia lain, lanskap media global juga mengalami perombakan besar. Di Serbia, institusi media mulai membersihkan diri dari pengaruh mantan presiden Aleksandar Vucic. Di sisi lain, semangat jurnalisme independen justru tumbuh, seperti yang ditunjukkan oleh majalah Equator yang didirikan untuk menyuarakan kepedulian moral terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.