Gelombang protes pelajar di Prancis semakin memanas. Sejak akhir bulan lalu, ratusan ribu siswa sekolah menengah (lycée) turun ke jalanan untuk menyuarakan kekesalan mereka terhadap kondisi sekolah yang memprihatinkan. Mulai dari kekurangan kursi, jam belajar yang terlalu panjang, hingga fasilitas rusak seperti toilet jebol dan tikus berkeliaran di koridor menjadi pemicu utama kemarahan mereka.
Aksi demonstrasi yang awalnya dimulai dari pinggiran kota Paris, Créteil, kini telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, termasuk Lille. Para pelajar tidak hanya memprotes masalah fasilitas, tetapi juga sistem penerimaan universitas yang dianggap tidak adil dan kurangnya tenaga pengajar. Guru-guru pun ikut bergabung dalam barisan demonstrasi, menunjukkan solidaritas terhadap kondisi pendidikan yang dinilai gagal memenuhi kebutuhan dasar siswa.
Pemerintah Prancis menghadapi tekanan besar karena protes ini terjadi menjelang pemilihan presiden. Isu pendidikan telah menjadi bola panas dalam politik yang terpolarisasi, dengan berbagai pihak saling menyalahkan atas ketegangan yang terjadi. Meskipun pemerintah telah mencoba memberikan konsesi, para pelajar dan guru tampaknya belum puas dan bertekad untuk melanjutkan aksi hingga tuntutan mereka didengar.