NAIROBI - Seorang pengusaha Kenya berusia 40 tahun menjadi kasus Ebola pertama yang terkonfirmasi di negaranya, setelah perjalanan panjang melintasi wilayah wabah di Republik Demokratik Kongo (DRC) tanpa terdeteksi. Pria tersebut meninggal dua hari setelah dirawat di rumah sakit Nairobi pada 5 Oktober lalu.
Menurut laporan Africa CDC, pengusaha ini tinggal di DRC selama tujuh tahun dan melakukan perjalanan bisnis ke tiga provinsi yang terdampak Ebola. Gejala awalnya muncul sekitar 15 September, namun ia sempat didiagnosis mengalami infeksi kulit dan diberikan antibiotik. Ia bahkan sempat dirawat di Pusat Kesehatan Tongo Etandi, Bondo, selama beberapa hari sebelum akhirnya terbang ke Kisangani pada 20 September.
Yang mengejutkan, infeksi virus mematikan ini lolos dari berbagai pemeriksaan kesehatan, termasuk dua kali skrining di bandara Uganda dan Kenya. Akibatnya, hampir 70 orang yang pernah berkontak dengannya kini harus menjalani karantina di Nairobi. Kejadian ini menyoroti lemahnya sistem biosekuriti di kawasan Afrika Timur di tengah wabah Ebola yang telah menewaskan lebih dari 4.000 orang di DRC sepanjang tahun ini.
Analisis Dampak: Insiden ini menjadi pukulan telak bagi kepercayaan publik terhadap prosedur kesehatan bandara internasional. Masyarakat kini dihadapkan pada risiko nyata bahwa virus mematikan bisa masuk tanpa terdeteksi melalui jalur penerbangan komersial. Pemerintah Kenya dan negara tetangga didesak untuk segera memperketat protokol kesehatan dan meningkatkan kapasitas deteksi dini, karena keterlambatan diagnosis dapat memicu klaster penyebaran baru yang sulit dikendalikan.