Konflik bersenjata di Yaman kembali meledak dalam beberapa pekan terakhir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 281.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak awal Agustus akibat eskalasi pertempuran yang makin ganas.
Pertempuran paling sengit terjadi di sejumlah front wilayah selatan Taiz, Yaman barat daya. Media yang berafiliasi dengan pasukan pemerintah melaporkan bentrokan intensif melawan kelompok Houthi di front Al-Aqroudh, Al-Masrakh, hingga Desa Al-Rahn di Distrik Sabir al-Mawadim. Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Majid al-Nazili, mengklaim pihaknya melancarkan 749 operasi militer dalam 24 jam terakhir yang mengakibatkan 239 militan tewas atau terluka serta menghancurkan 117 kendaraan dan kendaraan lapis baja.
Di sisi lain, media afiliasi Houthi melaporkan empat serangan udara menghantam Kota Mocha dan pelabuhannya di Laut Merah. Kelompok Houthi juga dilaporkan bergerak maju menduduki Jabal Sabr, gunung strategis yang menghadap Kota Taiz, pada Minggu. Gunung ini kini menjadi titik panas pertempuran antara kelompok dukungan Iran tersebut dan pasukan loyalis pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Situasi kemanusiaan makin mengkhawatirkan. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) memperingatkan bahwa waktu terus habis untuk menyalurkan bantuan kepada 800.000 orang yang terjebak di dalam Kota Taiz. Akses bantuan kian sulit dalam tiga pekan terakhir akibat rusaknya jalan utama penghubung Taiz dengan provinsi-provinsi selatan, sehingga pasokan bantuan harus melewati jalur pegunungan sempit. OCHA mendesak semua pihak menghormati hukum humaniter internasional dan membuka akses bantuan yang aman dan tanpa hambatan.
Sementara itu, penerbangan di Bandara Internasional Aden sempat terhenti pada Rabu setelah sebuah misil dilaporkan menghantam Kamp Al-Nasr yang berdekatan dengan bandara, lokasi markas penjaga pantai dan kementerian dalam negeri Yaman. Aktivitas penerbangan kini dilaporkan kembali normal. Houthi juga melaporkan lebih dari 100 serangan udara menyasar ibu kota Sanaa dan delapan provinsi lain dalam 24 jam terakhir.
Analisis dampak: Eskalasi multi-front ini memperparah krisis kemanusiaan yang sudah kronis. Gelombang pengungsian besar-besaran berpotensi memicu krisis pangan, wabah penyakit, dan tekanan pada kamp pengungsian yang sudah penuh. Terhambatnya jalur bantuan menempatkan ratusan ribu warga Taiz dalam risiko kelaparan dan kematian. Masyarakat internasional dituntut menekan pihak-pihak bertikai agar membuka koridor kemanusiaan sebelum situasi benar-benar tak terkendali.