Gelombang demonstrasi yang digerakkan anak muda kembali memanas di Eropa. Ribuan pelajar dan guru di Yunani turun ke jalan menuntut anggaran pendidikan yang lebih layak, sementara aksi serupa juga menggema di Prancis dan Albania dengan tuntutan yang meluas: dari fasilitas sekolah hingga harga hidup yang makin mencekik.
Di Athena, sekitar 10.000 demonstran memadati area parlemen pada Rabu lalu. Mereka menyerukan pendidikan publik yang gratis dan berkualitas, disertai aksi duduk sepanjang malam di sekitar gedung legislatif. Aksi damai ini juga merambat ke Thessaloniki, Patras, Larissa, dan sejumlah kota lain sebagai bentuk solidaritas terhadap demonstrasi di Prancis yang sempat berujung bentrokan dengan aparat dan kerusakan properti.
Tekanan ini menjadi ujian berat bagi Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis menjelang pemilu 2027. Yunani memang baru lepas dari krisis utang 2009-2018 yang memaksa pemangkasan anggaran besar-besaran demi bailout Uni Eropa dan IMF senilai 290 miliar euro. Imbasnya, gaji rata-rata warga Yunani stagnan di angka 1.500 euro per bulan—setara level 2009—sementara harga sewa dan energi melonjak. Banyak anak muda kini tersingkir dari pasar hunian di kota besar.
Analisis: Protes ini bukan sekadar soal fasilitas sekolah. Ia adalah ledakan dari frustrasi struktural: upah yang tidak naik selama belasan tahun, biaya hidup yang meroket, dan masa depan yang terasa makin sempit bagi generasi muda. Pemerintah Yunani sendiri mengklaim telah menggelontorkan 733 juta euro untuk renovasi asrama dan fasilitas kampus, plus sekitar 1 miliar euro subsidi energi. Namun angka-angka itu belum menyentuh akar masalah: daya beli yang tergerus. Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bahwa ketimpangan upah versus biaya hidup bisa memicu gelombang protes lintas generasi—sebuah peringatan bagi pembuat kebijakan di mana pun.