Mexico kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat deteksi kanker payudara. Langkah ini diambil karena sistem kesehatan negara itu kerap menghadapi antrean panjang dan kekurangan dokter spesialis, yang membuat proses skrining jadi lambat.
Dalam laporan Al Jazeera, jurnalis Julia Galiano mengunjungi sebuah rumah sakit yang menggunakan AI untuk menandai hasil pemindaian mencurigakan. Nantinya, temuan itu dikirim ke spesialis untuk ditinjau secara jarak jauh. Dengan cara ini, pasien bisa mendapat hasil lebih cepat tanpa harus menunggu lama.
Analisis singkat: Penerapan AI di bidang kesehatan seperti ini berpotensi besar menyelamatkan nyawa, terutama di negara dengan keterbatasan tenaga medis. Deteksi dini kanker payudara sangat menentukan tingkat keberhasilan pengobatan. Jika AI mampu memangkas waktu tunggu, angka kematian akibat kanker payudara bisa ditekan. Namun, tantangan tetap ada: mulai dari kesiapan infrastruktur digital, pelatihan tenaga medis, hingga memastikan akurasi AI agar tidak terjadi kesalahan diagnosis. Ke depan, model serupa bisa diadopsi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, yang juga menghadapi masalah distribusi dokter spesialis.