Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa lebih dari 3.000 kapal komersial telah melintasi Selat Hormuz dengan dukungan militer AS selama enam bulan terakhir. Klaim ini muncul di tengah upaya Iran yang disebut berusaha mengontrol jalur air strategis tersebut.
Menurut CENTCOM, lebih dari 95 persen kapal yang melintas berhasil melewati jalur itu dengan aman meskipun ada ancaman dari Iran. Hal ini, kata mereka, membuktikan bahwa AS dan mitra regional memegang kendali atas jalur pelayaran internasional itu. Pengumuman ini disampaikan saat Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, melakukan kunjungan ke kawasan dan meninjau kondisi operasional di selat tersebut dari helikopter militer AS.
Cooper menegaskan komitmen AS untuk menjaga kebebasan navigasi dan berdiri bersama mitra Teluk serta industri pelayaran. Ia juga menyebut jalur transit utama bebas dari ranjau Iran berkat upaya personel pembersihan ranjau. Meski demikian, harga minyak mentah dunia masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum perang. Brent crude berada di sekitar $114,50 per barel, meskipun telah turun sekitar 2 persen dari level tertinggi hampir enam bulan terakhir. Sebelum konflik AS-Israel vs Iran dimulai pada akhir Februari, harga Brent hanya $72,48 per barel.
Analis menilai pemulihan arus minyak didorong oleh kombinasi transfer antar-kapal lepas pantai, pengawalan militer AS, dan peningkatan penggunaan pipa minyak. Namun, ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian global karena jalur ini merupakan salah satu choke point terpenting bagi pasokan energi dunia.