Meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu rentetan serangan balasan dari Teheran terhadap Israel dan aset militer AS di Teluk. Bukan sekadar pembalasan biasa, analis pertahanan mengungkap Iran kini mengadopsi strategi militer yang jauh lebih agresif, menjadikan kelangsungan hidup Republik Islam sebagai prioritas utama.
Insiden ini bermula Sabtu lalu, ketika Khamenei dan beberapa pejabat senior Iran lainnya tewas dalam serangan gabungan AS-Israel. Begitu kematian Khamenei dikonfirmasi Minggu oleh media pemerintah Iran, Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung bersumpah membalas dendam. Mereka melancarkan apa yang disebut sebagai 'operasi ofensif terberat dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam' yang menargetkan Israel dan pangkalan 'teroris Amerika'. Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, juga menegaskan komitmen untuk terus membela negara, bahkan mengklaim jet tempur mereka telah membombardir pangkalan-pangkalan AS di seluruh wilayah Teluk pada hari Minggu.
Ini bukan kali pertama Iran menyasar Israel dan pangkalan militer AS di Teluk sebagai respons balasan. Juni tahun lalu, saat perang 12 hari dengan Israel, Teheran juga meluncurkan gelombang rudal balistik. Namun, sebagian besar rudal tersebut berhasil dicegat. Analis pertahanan yang diwawancarai Al Jazeera menyebutkan, insiden kali ini menunjukkan Iran telah merevisi strategi militernya menjadi lebih agresif, bukan sekadar respons 'menyelamatkan muka' seperti sebelumnya. Mereka kini fokus pada pertahanan eksistensial.
Kekuatan militer Iran memang dikenal rumit dan tak transparan. Negara itu mengoperasikan dua pasukan paralel: Artesh (tentara reguler) untuk pertahanan teritorial dan perang konvensional, serta IRGC, pasukan elite yang perannya jauh melampaui pertahanan negara, termasuk melindungi struktur politik Iran. IRGC juga mengendalikan wilayah udara dan arsenal drone Iran, yang kini menjadi tulang punggung strategi pencegahan Teheran terhadap serangan dari Israel dan AS. Struktur militer kompleks ini, menurut analis, adalah strategi sengaja untuk melindungi negara dari ancaman eksternal maupun internal, termasuk kemungkinan kudeta.
Dalam serangan balasan terbarunya, Iran dilaporkan menggunakan drone Shahed, kendaraan tempur nirawak, dan rudal balistik berkecepatan tinggi. Meski AS, Israel, dan negara-negara Teluk mengklaim sebagian besar berhasil mencegat rudal-rudal tersebut, beberapa di antaranya dilaporkan berhasil menghantam sasaran. Eskalasi ini memperlihatkan semakin tegangnya situasi di Timur Tengah dan potensi konflik yang lebih luas, yang tentu saja berdampak pada stabilitas kawasan dan harga komoditas global.