Jakarta, CNN Indonesia — Jagat politik Amerika Serikat kembali memanas. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada iklan kampanye kontroversial yang menyeret nama kandidat Partai Demokrat, Amy Acton, ke dalam ranah kelam masa lalunya.
Iklan tersebut menampilkan Donna Arthur, ibu kandung Acton, yang melontarkan pernyataan tajam bahwa putrinya telah 'berbohong sepanjang hidup'. Yang membuat publik murka, iklan itu disebut sengaja menyembunyikan fakta kelam: suami Donna, Cledith Arthur, pernah didakwa atas tuduhan pemerkosaan terhadap Acton saat masih anak-anak.
Kampanye Vivek Ramaswamy, kandidat gubernur dari Partai Republik, mengklaim bertanggung jawab atas iklan tersebut dan telah menggelontorkan dana jutaan dolar untuk menyiarkannya secara masif di Ohio. Langkah ini langsung menuai kecaman bipartisan, termasuk dari saudara kandung Acton yang menyebut eksploitasi isu pelecehan seksual sebagai 'titik terendah yang keji'.
Di tengah badai kritik, Wakil Presiden JD Vance justru mengambil sikap kontroversial. Ia mengaku 'muak' bukan pada isi iklan, melainkan pada rekan-rekan separtainya yang dianggap terlalu banyak 'merengek' mempersoalkan adegan tersebut. Vance menegaskan fokusnya adalah masa depan pemerintahan, bukan drama kampanye.
Analisis Dampak: Insiden ini menjadi cermin kerasnya pertarungan politik elektoral di AS, di mana batas etika privasi keluarga kerap diinjak demi meraup simpati suara. Bagi masyarakat, fenomena ini menghadirkan bahaya normalisasi kekerasan seksual sebagai komoditas politik, sekaligus menguji integritas moral para elit partai dalam merespons isu sensitif.