Washington, DC – Amerika Serikat kembali menggelar aksi militer di Teluk Persia dengan menyerang sebuah kapal tanker minyak yang disebut sedang menuju terminal ekspor minyak terbesar Iran di Pulau Kharg. Komando Pusat AS (Centcom) mengkonfirmasi serangan rudal Hellfire dari pesawat nirawak berhasil melumpuhkan kapal bernama Belma pada Rabu (waktu setempat), setelah kapal itu 'mengabaikan peringatan berulang kali'.
Serangan ini terjadi sehari setelah Presiden Donald Trump secara resmi memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini merupakan respons atas serangkaian serangan yang ditudingkan kepada Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, serta aksi saling serang yang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Trump sempat menyatakan gencatan senjata 'berakhir'.
Blokade terhadap kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran sebelumnya pernah berlaku pada 13 April hingga 18 Juni. Saat itu, AS mengklaim telah mengalihkan lebih dari 140 kapal dan melumpuhkan sembilan kapal. Blokade dan sanksi utama terhadap minyak Iran sempat dicabut dalam kesepakatan gencatan senjata pada 17 Juni. Dalam periode tanpa blokade, Iran diperkirakan mengekspor setidaknya 74 juta barel minyak senilai hingga 6 miliar dolar AS.
Selain menyerang Belma, Centcom juga mengatakan dua kapal komersial lainnya berhasil dialihkan setelah mematuhi instruksi. Kapal Belma sendiri sebelumnya telah masuk dalam daftar sanksi AS karena terkait dengan Iran. Data pelacakan menunjukkan kapal itu memasuki Teluk pada Selasa dan terakhir terpantau sekitar 100 km dari Pulau Kharg tanpa membawa muatan. Sementara itu, kapal tanker lain bernama Fuyao, yang juga berada dalam sanksi AS, tiba-tiba berbalik arah menuju perairan Iran di Teluk Oman pada Kamis, diduga karena takut terkena blokade.
Analisis Dampak: Eskalasi ini langsung memicu kekhawatiran global akan terganggunya pasokan minyak dari kawasan Teluk. Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sepertiga minyak dunia, mencatat penurunan drastis jumlah pelintasan kapal. Data terbaru menunjukkan hanya 11 kapal tanker bahan bakar dan kargo yang melintas per hari, jauh di bawah rata-rata sebelum konflik yang mencapai 138 kapal per hari. Jika blokade berlanjut, harga minyak dunia berpotensi melonjak dan memperparah inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Para analis dari United Against Nuclear Iran (UANI) memperingatkan bahwa sanksi dan blokade yang dicabut lalu diberlakukan lagi menciptakan ketidakpastian hukum yang merugikan perusahaan pelayaran dan pasar energi global.