Persaingan kursi presiden Brazil memanas jelang pemungutan suara hari Minggu. Dua kubu utama, Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva dan Senator Flavio Bolsonaro, kompak mengklaim optimistis menang satu putaran. Namun, data survei terbaru justru menunjukkan tren berbeda: keunggulan Lula terus menyempit, dan peluang keduanya untuk menang langsung semakin tipis.
Lula, yang kini berusia 80 tahun, menutup kampanyenya dengan pawai akbar di Sao Paulo. Dalam orasinya, ia menyerukan pemilih untuk memilih antara 'demokrasi dan barbarisme', sekaligus menegaskan komitmennya memberantas ekstremisme sayap kanan. Ia juga menyinggung isu kedaulatan negara, memperingatkan potensi intervensi asing dalam proses demokrasi Brazil.
Di sisi lain, Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, menggelar konvoi motor di Rio de Janeiro. Ia menyatakan yakin seluruh persiapan telah matang untuk kemenangan putaran pertama. Flavio juga menyinggung soal kebebasan ayahnya yang kini mendekam di penjara, serta menyoroti dugaan kecurangan sistem pemilu elektronik—sebuah narasi yang dikhawatirkan analis sebagai upaya menggugat hasil jika ia kalah.
Dengan selisih elektabilitas yang kian tipis, skenario pilpres Brazil kemungkinan besar akan berlanjut ke putaran kedua pada 25 Oktober mendatang. Situasi ini menjadi ujian berat bagi stabilitas politik Brazil, mengingat polarisasi yang tajam dan bayang-bayang intervensi AS yang terus menghantui kampanye.