PRESIDEN KOLOMBIA SULAP MUSEUM JADI ARENA POLITIK? - Berita Dunia
← Kembali

PRESIDEN KOLOMBIA SULAP MUSEUM JADI ARENA POLITIK?

Foto Berita

Bogota, Kolombia - Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, memicu gelombang protes setelah melancarkan apa yang disebutnya sebagai 'kontra-revolusi' budaya. Langkah kontroversial ini berujung pada pencabutan puluhan pameran di Museum Nasional, memicu kecaman keras dari kalangan seniman, aktivis HAM, dan mahasiswa yang menuduh pemerintah melakukan sensor terhadap sejarah bangsa.

De la Espriella, yang dikenal sebagai sekutu politik Donald Trump, berdalih ingin menyelamatkan institusi budaya dari cengkeraman 'komunisme sosial ateis'. Namun, aksinya mencabut pameran yang membahas sejarah gerakan sosial, aktivisme LGBTQ+, hingga kekerasan politik justru dianggap sebagai upaya penghapusan jejak sejarah kelompok minoritas. Aksi unjuk rasa pun pecah di depan Museum Nasional, Bogota, dengan pengamanan ketat aparat kepolisian.

Analisis dampak bagi masyarakat menunjukkan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan kebebasan berekspresi di Kolombia. Kritikus menilai langkah ini bukan sekadar perubahan kurikulum museum, melainkan upaya sistematis untuk menyeragamkan identitas nasional menjadi satu visi yang eksklusif—putih, Katolik, dan berbahasa Spanyol—sejalan dengan narasi politik sayap kanan global. Situasi ini mengingatkan pada tren serupa di AS, di mana museum sejarah sering menjadi sasaran kritik politik. Bagi publik, ini menjadi alarm bahwa ruang publik dan edukasi bisa berubah menjadi alat propaganda politik yang mengancam keberagaman.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook