Jakarta, CNN Indonesia — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi mengakhiri misi penjaga perdamaiannya di wilayah sengketa Sahara Barat. Langkah ini menandai berakhirnya salah satu upaya diplomatik terpanjang dalam sejarah konflik Afrika yang telah berlangsung lebih dari setengah abad.
Konflik ini bermula dari berakhirnya kekuasaan kolonial Spanyol di wilayah tersebut. Sejak saat itu, Maroko dan Front Polisario sama-sama mengklaim kedaulatan atas Sahara Barat. PBB sendiri mulai mengirimkan misi penjaga perdamaian pada dekade 1990-an untuk mencari solusi damai.
Namun, upaya tersebut kandas pekan lalu setelah Rusia dan Amerika Serikat memblokir proposal perpanjangan mandat misi tersebut di Dewan Keamanan PBB. Ketiadaan misi penjaga perdamaian ini memicu kekhawatiran akan potensi meletusnya kembali konflik bersenjata di wilayah tersebut.
Analisis Dampak: Berakhirnya misi PBB meninggalkan kekosongan pengawasan di zona penyangga, yang berisiko meningkatkan ketegangan antara militer Maroko dan pasukan Polisario. Bagi masyarakat sipil, terutama pengungsi Sahrawi, ketidakpastian politik ini berdampak pada terhambatnya bantuan kemanusiaan dan prospek penyelesaian status kewarganegaraan mereka. Situasi ini juga menjadi pukulan bagi efektivitas diplomasi multilateral PBB dalam menyelesaikan sengketa wilayah yang berlarut-larut.