Meski gelombang protes besar-besaran di Iran kini terlihat mereda, bara api kekecewaan masyarakat masih membara di bawah permukaan. Analis mengingatkan, tanpa kesepakatan vital dengan Amerika Serikat untuk pencabutan sanksi, Teheran bisa terjebak dalam pusaran gejolak yang lebih parah. Situasi ekonomi Iran yang terpuruk parah menjadi alasan utama kecemasan ini.
Para ahli menyebut, Iran kini berada di persimpangan jalan. Mereka harus membuat kompromi sulit untuk bisa mendapatkan bantuan sanksi dan memperbaiki ekonomi, atau bersiap menghadapi potensi kekacauan baru. Ekonomi Iran memang babak belur, terlihat dari anjloknya nilai tukar mata uang rial dan menyusutnya pendapatan minyak. Inflasi bahkan sempat meroket hingga lebih dari 42 persen tahun lalu, jauh berbeda dengan angka 6,8 persen di tahun 2016, setahun setelah Iran menyepakati perjanjian nuklir dengan negara-negara besar.
Kondisi ini diperparah setelah Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi berat. Akibatnya, pilihan pemerintah Iran untuk meredakan protes dengan subsidi atau kelonggaran sosial, seperti yang pernah dilakukan pada 2019 atau 2022, kini sangat terbatas. Selain sanksi, masalah internal seperti salah urus dan korupsi juga menjadi biang kerok krisis ini.
Masyarakat Iran pun merasakan dampaknya langsung. Selain inflasi yang mencekik, mereka juga harus menghadapi masalah kronis seperti pemadaman listrik dan kelangkaan air. Untuk keluar dari tekanan sanksi, Iran perlu bernegosiasi dengan AS. Namun, ini berarti Pemimpin Tertinggi Khamenei harus bersedia membuat konsesi besar terkait pilar utama kebijakan luar negeri Iran, yaitu program nuklir, rudal balistik, dan dukungan terhadap sekutunya di regional. Konsesi inilah yang menjadi kunci sekaligus tantangan terbesar bagi Iran.
Angka korban jiwa akibat protes terakhir di Iran sendiri masih simpang siur. Media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 3.000 orang tewas, sementara aktivis hak asasi manusia di AS mengklaim angkanya melebihi 5.000 jiwa. Terlepas dari angka pastinya, satu hal yang jelas: ketidakstabilan ini, menurut para ahli, "tidak berkelanjutan" dan bisa membawa Iran ke jurang yang lebih dalam jika tidak ada perubahan mendasar.