Amerika Serikat kembali terlibat konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah, meski mayoritas warganya menilai langkah tersebut tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Pertanyaan besarnya: mengapa siklus perang ini terus berulang?
Dalam diskusi yang digelar Al Jazeera, mantan Brigadir Jenderal Angkatan Darat AS Mark Kimmitt dan jurnalis Spencer Ackerman membedah akar persoalan. Ada tiga faktor utama yang disorot: kepentingan minyak, industri pertahanan raksasa senilai 2,4 triliun dolar AS, serta kuatnya pengaruh pelobi di Washington. Selain itu, sistem politik dinilai jarang menuntut pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab atas kebijakan perang.
Pertanyaannya kemudian: apakah suara pemilih bisa menghentikan apa yang disebut sebagai 'perang abadi' ini? Diskusi tersebut menyoroti bahwa meski publik Amerika lelah dengan konflik berkepanjangan, mesin politik dan ekonomi di balik industri perang tetap berputar kencang. Dampaknya bagi masyarakat global, termasuk Indonesia, adalah ketidakstabilan harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik yang bisa memicu krisis ekonomi.