Ketegangan di Timur Tengah memanas setelah Iran secara resmi merespons proposal perdamaian 15 poin dari Amerika Serikat. Teheran menegaskan "hak alamiah dan hukumnya" atas Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia. Namun, respons ini justru diwarnai perang urat syaraf, dengan Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran "mengemis" untuk sebuah kesepakatan dan pasukannya telah "melumat habis" angkatan laut serta angkatan udara Iran.
Klaim Trump yang bombastis ini langsung dibantah keras oleh Iran. Kantor berita Tasnim, yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Islam, mengutip sumber "berwenang" yang menyebut tawaran AS hanyalah "tipuan" untuk menciptakan citra damai demi menjaga harga minyak tetap rendah dan persiapan "invasi darat". Iran mengajukan syarat-syarat berat, termasuk penghentian "aksi pembunuhan agresif" terhadap para pemimpinnya, kompensasi kerugian perang, dan penghentian permusuhan oleh "semua kelompok perlawanan" di kawasan. Ini menandakan posisi Teheran justru semakin mengeras.
Di sisi lain, utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengklaim Iran sedang mencari "jalan keluar" dari konflik dan mulai menyadari tidak ada alternatif lain selain negosiasi. Ia bahkan menyebut ada "banyak jangkauan" dari berbagai pihak yang ingin memainkan peran dalam mengakhiri konflik secara damai, dengan Pakistan disebut-sebut sebagai mediator. Namun, Witkoff menyalahkan Iran karena "menunda-nunda pembicaraan" dan menyebabkan lebih banyak "kematian dan kehancuran".
Perang kata-kata ini terjadi di tengah dampak serius konflik terhadap perekonomian global. Blokade Selat Hormuz yang efektif oleh Iran telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar di seluruh dunia dan membuat banyak negara serta perusahaan kelimpungan. Klaim Trump tentang penghancuran militer Iran juga dipertanyakan, mengingat sumber Iran menegaskan bahwa pemboman oleh AS selama perundingan damai justru merusak kepercayaan Teheran terhadap keseriusan Washington untuk bernegosiasi. Situasi ini menunjukkan bahwa di balik meja perundingan, ketegangan justru semakin membara dengan konsekuensi yang meluas ke pasar energi dunia.