Ribuan nelayan berbondong-bondong memadati Sungai Matan Fadan yang keruh, situs warisan UNESCO di Argungu, Nigeria Barat Laut. Mereka bersaing dalam Festival Penangkapan Ikan Internasional Argungu yang legendaris, sebuah perayaan budaya dan adu ketangkasan yang kembali semarak setelah sempat terhenti.
Presiden Bola Tinubu turut hadir, bergabung dengan ribuan penonton yang bersorak-sorai menyaksikan para peserta berjuang menangkap ikan terbesar. Uniknya, seluruh peserta hanya boleh menggunakan metode tradisional, mulai dari jaring tenun tangan, labu air, hingga tangan kosong, menjaga warisan leluhur tetap hidup.
Puncaknya, seorang juara berhasil menaklukkan ikan kakap merah seberat 59 kilogram. Para nelayan lain pun menjual hasil tangkapan mereka, memberikan suntikan segar bagi perekonomian lokal. Sungai ini sendiri dijaga ketat dan ditutup sepanjang tahun oleh Sarkin Ruwa, sang kepala air, untuk menjaga kelestarian ekosistemnya.
Festival yang sudah ada sejak 1934 ini bukan cuma soal ikan. Ia adalah simbol perdamaian yang lahir dari kesepakatan antara Kekhalifahan Sokoto dan Emirat Argungu. Setelah puluhan tahun menjadi penanda persatuan, festival ini sempat mati suri di tahun 2010 akibat masalah infrastruktur dan maraknya isu keamanan di Nigeria Utara. Sempat bangkit sebentar di 2020, lalu berhenti lagi, hingga akhirnya kembali digelar tahun ini.
Meski Presiden Tinubu menganggap kembalinya festival ini sebagai sinyal stabilitas di Nigeria, realitas di lapangan sedikit berbeda. Hussein Mukwashe, Sarkin Ruwa Argungu, mengakui bahwa banyak orang masih enggan datang karena ketakutan akan ancaman keamanan. Faktanya, Nigeria utara memang masih rentan konflik dan serangan. Namun, bagi sebagian besar warga, festival ini adalah kebanggaan komunitas yang kembali, sebuah momen pelestarian budaya yang tak ternilai harganya di tengah gejolak.