Konflik bersenjata di Ethiopia utara kembali meletus dengan intensitas yang mengkhawatirkan. Kelompok bersenjata yang beraliansi dengan pemerintah Ethiopia, Tigray Peace Forces (TPF), mengklaim telah melumpuhkan kekuatan Tigray People's Liberation Front (TPLF). Klaim ini muncul setelah pertempuran sengit kembali terjadi sejak September lalu, yang mengakhiri gencatan senjata damai tahun 2022.
Situasi di lapangan dilaporkan sangat dinamis. Pasukan federal Ethiopia dikabarkan terus merangsek mendekati ibu kota regional, Mekelle. Ketua TPLF, Debretsion Gebremichael, mengakui bahwa pasukannya telah kehilangan kendali di beberapa wilayah, namun bersumpah akan melakukan serangan balik. Pertempuran tidak hanya terpusat di Tigray, tetapi mulai merembet ke wilayah tetangga, Amhara dan Afar.
Ketegangan ini memicu krisis diplomatik di kawasan. Eritrea secara mengejutkan memutuskan hubungan diplomatik dengan Ethiopia. Pemerintah Ethiopia menuduh Eritrea, Mesir, dan Sudan mendukung aliansi oposisi yang berupaya menggulingkan Perdana Menteri Abiy Ahmed. Tuduhan ini dibantah keras oleh Eritrea dan Mesir, yang justru saling mengusir diplomat. Uni Afrika mendesak ketiga negara untuk menahan diri agar konflik tidak meluas.
Dampak kemanusiaan dari konflik ini sangat memprihatinkan. Sekitar enam hingga tujuh juta warga di Tigray saat ini terisolasi total. Mereka hidup tanpa aliran listrik, internet mati, dan komunikasi yang terputus, membuat distribusi bantuan kemanusiaan menjadi sangat sulit dijangkau.