Program Pangan Dunia (WFP) mengeluarkan peringatan keras: konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya memicu gejolak harga minyak, tetapi juga mendorong jutaan orang di negara-negara rapuh ke jurang kelaparan.
Dalam analisis terbaru yang dirilis Jumat lalu, WFP menyebut dampak perang yang dimulai pada 28 Februari itu sudah mulai terasa. Proyeksi Maret lalu yang menyebut 45 juta orang akan mengalami kekurangan pangan akut jika harga minyak bertahan di 100 dolar AS per barel hingga akhir Juni, kini mulai menjadi kenyataan.
"Kenaikan harga pangan yang signifikan sudah terasa di negara-negara rapuh," tulis WFP. Lembaga ini menambahkan bahwa krisis ini menimbulkan guncangan besar, terutama melalui harga bahan bakar dan pangan, hilangnya pendapatan, serta gangguan rantai pasok.
Bocornya jalur pelayaran di Selat Hormuzāyang nyaris lumpuh totalāmenjadi biang keladi utama. Kapal-kapal tanker minyak tidak bisa melintas, membuat pasar energi global bergejolak. Sayangnya, negosiasi tidak langsung antara AS dan Iran belum menunjukkan titik terang.
Dampak paling parah dirasakan di tiga negara:
- Somalia: 6,5 juta orangāatau sepertiga dari total populasiādiperkirakan akan menghadapi kelaparan parah pada 2026. Hampir 60 persen rumah tangga tidak mampu membeli kebutuhan dasar.
- Afghanistan: 17,4 juta orang terancam. Tambahan 2,3 juta orang bisa jatuh ke dalam kerawanan pangan, di luar 13,8 juta yang sudah menderita sebelumnya.
- Sri Lanka: Hingga 1,3 juta orang berisiko tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan pokok.
Ketiga negara ini sangat bergantung pada impor energi dan pangan. Ketika harga minyak naik, biaya logistik membengkak, dan harga sembako ikut meroket.
Yang lebih mengkhawatirkan, sistem kemanusiaan global juga ikut tertekan. Biaya operasional yang melonjak memaksa WFP memangkas jumlah penerima bantuan. Jika konflik berlanjut enam bulan lagi, lebih dari 9 juta orang bisa kehilangan akses bantuan pangan.
Analis ekonomi dari Institute for Global Policy menambahkan, situasi ini menciptakan lingkaran setan: kenaikan harga minyak membuat pangan mahal, negara miskin tidak mampu membeli, dan bantuan internasional pun menyusut karena biaya distribusi ikut naik.