Pemilihan presiden Bulgaria pada Minggu (19/10) berlangsung di tengah ketegangan keamanan maritim. Dua kandidat terkuat, Presiden petahana Iliana Iotova (61) dan mantan Perdana Menteri sementara Andrey Gyurov (50), sama-sama mengecam serangan drone mematikan di lepas pantai Laut Hitam Bulgaria yang menewaskan sekitar dua lusin pelaut internasional.
Meski kompak mengutuk serangan tersebut, keduanya berseberangan soal sikap terhadap perang Rusia-Ukraina. Gyurov, yang didukung partai pro-Barat dan reformis, menegaskan komitmennya sebagai sekutu NATO yang andal dan telah menandatangani perjanjian kerja sama keamanan dengan Kyiv. Sementara Iotova, yang didukung mantan Presiden Rumen Radev, mengusung pendekatan diplomatik dan kerap dituding menggunakan retorika pro-Kremlin.
Pemerintah Bulgaria belum secara eksplisit menuduh Rusia sebagai pelaku serangan drone, tetapi Perdana Menteri Rumen Radev menyebut hasil serangan itu 'menguntungkan Federasi Rusia'. Insiden ini memicu kekhawatiran internasional tentang meluasnya jangkauan perang Ukraina dan mendorong Bulgaria meminta bantuan sekutu untuk memperkuat keamanan maritimnya.
Meski jabatan presiden di Bulgaria sebagian besar bersifat seremonial, posisi ini tetap strategis karena memimpin angkatan bersenjata, memiliki hak veto legislasi, serta berwenang menandatangani perjanjian internasional dan mengangkat duta besar. Pemilu kali ini diikuti 27 kandidat dan menjadi sorotan karena menguji arah geopolitik Bulgaria di tengah polarisasi masyarakat antara sentimen pro-Barat dan pro-Rusia yang mengakar kuat.