Siapa sangka, setelah bertahun-tahun terlibat dalam konflik tak berujung di berbagai front regional, militer Israel kini dikabarkan berada di ambang kehancuran. Peringatan keras ini datang langsung dari Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, yang mendesak kabinet untuk segera mengambil tindakan penyelamatan agar pasukannya tidak kolaps.
Zamir, seperti dilaporkan Channel 13 Israel, terang-terangan mengatakan kepada para menteri bahwa ia telah ‘mengibarkan 10 bendera merah’. Ia menekankan perlunya bergerak cepat menyusun legislasi yang sudah lama tertunda. Tujuannya jelas, meringankan beban pasukannya yang disebutnya sudah ‘kelelahan’ setelah terlibat dalam operasi militer berkelanjutan, termasuk apa yang oleh kelompok hak asasi dan PBB disebut genosida di Gaza, aneksasi de facto Tepi Barat, serta serbuan berulang ke Lebanon dan Suriah.
Tanpa undang-undang wajib militer baru, aturan dinas cadangan, dan perpanjangan masa dinas wajib, Zamir khawatir militer Israel “tidak akan siap untuk misi rutinnya dan sistem cadangan tidak akan bertahan.” Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri telah menyatakan rencana untuk memperpanjang masa wajib militer.
Namun, ini bukan kali pertama alarm bahaya bagi militer Israel dibunyikan. Jauh sebelum ini, tepatnya delapan bulan setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, laporan sudah muncul tentang kekurangan jumlah pasukan, kelelahan parah, dan minimnya pasokan. Situasi yang hanya memburuk seiring waktu.
Fakta menariknya, Israel mengandalkan model militer yang relatif kecil didukung korps cadangan besar yang diisi ‘tentara-warga’ (citizen soldiers). Sebelum perang Gaza, tentara aktif hanya sekitar 100.000 personel. Namun, pasca serangan Hamas 7 Oktober 2023, sekitar 300.000 cadangan langsung dipanggil. Bahkan, pada Maret lalu, setelah serangan AS-Israel di Iran, 100.000 cadangan tambahan dimobilisasi. Artinya, sebagian besar pasukan yang bertugas di lapangan adalah prajurit cadangan yang ditarik dari kehidupan sipil mereka.
Kondisi ini jelas menciptakan dampak serius. Bukan hanya mengancam kesiapan tempur Israel dalam menghadapi ancaman regional yang kian kompleks, tetapi juga membebani masyarakat secara ekonomi dan sosial. Kehidupan jutaan keluarga terganggu, dan tekanan pada 'citizen soldiers' yang menjadi tulang punggung pertahanan Israel kini mencapai puncaknya. Akankah Israel bisa mengatasi krisis kekuatan militernya ini?