Kilang minyak utama di Haifa, Israel utara, kembali jadi sasaran rudal. Insiden yang terjadi pada Senin ini memicu kebakaran besar dan kepulan asap hitam pekat membubung di langit. Ini adalah kali kedua fasilitas Oil Refineries, atau yang juga dikenal sebagai kilang Bazan, dihantam rudal dari Iran dan Lebanon, sejak 'perang' antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran meletus bulan lalu.
Meski kebakaran sempat menghebohkan, pihak berwenang Israel dan manajemen Bazan Group memastikan tidak ada korban jiwa dan risiko bahan berbahaya. Api berhasil dipadamkan dengan cepat.
Serangan ini bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah. Kelompok-kelompok sekutu Iran, seperti Hizbullah dari Lebanon, semakin gencar menargetkan fasilitas Israel, termasuk pangkalan angkatan laut di Haifa.
Di sisi lain, Israel membalas dengan melancarkan serangan udara dan memperluas invasi daratnya ke Lebanon selatan. Tujuan operasi ini disebut untuk menumpas pejuang Hizbullah, khususnya setelah Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei oleh AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Dampaknya, lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Serangan Israel juga menelan korban jiwa, termasuk satu warga sipil di Barashit dan seorang tentara Lebanon di pos pemeriksaan militer.
Analis keamanan Ali Rizk memperingatkan bahwa Lebanon berisiko terseret lebih jauh ke dalam pusaran konflik. Ancaman perluasan invasi darat oleh Israel, seperti yang digaungkan PM Benjamin Netanyahu, bisa mengubah Lebanon menjadi medan perang yang lebih luas dan memperparah krisis kemanusiaan di sana. Serangan berulang pada infrastruktur vital seperti kilang minyak juga menyoroti potensi gangguan pasokan energi regional jika ketegangan terus memuncak.