Kendati putusan Mahkamah Agung AS telah menolak kewenangannya memberlakukan tarif global secara luas, Donald Trump tak gentar. Mantan Presiden AS itu justru mengintensifkan ancaman tarifnya, bahkan segera memberlakukan tarif baru sebesar 15 persen. Keputusan ini berpotensi besar memicu ketidakpastian ekonomi dan menimbulkan gejolak di pasar keuangan.
Sebelumnya, Mahkamah Agung AS membatalkan penggunaan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (International Emergency Economic Powers Act) tahun 1977 oleh Trump sebagai dasar pengenaan tarif berskala besar. Namun, Trump menanggapi putusan tersebut dengan defianto. Melalui platform Truth Social miliknya, ia menyatakan bahwa negara mana pun yang 'bermain-main' setelah putusan itu akan 'dihantam tarif yang jauh lebih tinggi'. Ia juga menegaskan bahwa sebagai Presiden, ia tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk memberlakukan tarif, mengklaim bahwa wewenang tersebut sudah ada sejak lama dan 'ditegaskan kembali' oleh putusan Mahkamah Agung yang ia sebut 'konyol dan cacat'.
Langkah baru Trump akan menggunakan Pasal 122 dari Undang-Undang Perdagangan tahun 1974. Pasal ini memungkinkan Gedung Putih untuk memberlakukan tarif maksimal 15 persen untuk jangka waktu 150 hari hanya dengan deklarasi presiden, tanpa perlu penyelidikan lebih lanjut. Namun, sifatnya sementara; tarif tersebut akan berakhir kecuali diperpanjang oleh Kongres.
Keputusan Trump ini tidak populer di kalangan publik. Survei terbaru Washington Post-ABC News-Ipsos menunjukkan 64 persen warga Amerika tidak setuju dengan penanganan tarif oleh mantan Presiden itu. Para ahli memperingatkan bahwa tarif baru ini akan semakin memicu ketidakpastian ekonomi. Max Kulyk, CEO Chicory Wealth, menyatakan ketidakpastian ini merugikan ekonomi dan konsumen Amerika, membuatnya sulit bagi bisnis untuk merencanakan, merekrut, atau berinvestasi.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Emas, yang sering dianggap sebagai investasi aman di tengah ketidakpastian, melonjak 2 persen dan mencapai level tertinggi dalam tiga minggu. Sementara itu, pasar saham AS mengalami tekanan signifikan. Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun 1,1 persen, S&P 500 merosot 1 persen, dan Dow Jones Industrial Average anjlok 1,5 persen sejak pembukaan pasar pada hari Senin. Pendekatan Trump yang tidak menentu ini dikhawatirkan akan menghambat berbagai aktivitas ekonomi dan investasi di masa depan.