LEBANON GALAU: SENJATA HEZBOLLAH DILUCUTI, ISRAEL TERUS HANTAM! - Berita Dunia
← Kembali

LEBANON GALAU: SENJATA HEZBOLLAH DILUCUTI, ISRAEL TERUS HANTAM!

Foto Berita

Pemerintah Lebanon baru saja mengumumkan bahwa militernya butuh setidaknya empat bulan untuk merampungkan fase kedua rencana pelucutan senjata kelompok Hezbollah di wilayah selatan negara itu. Pengumuman ini disampaikan Menteri Informasi Paul Morcos pada Senin, di tengah tekanan besar dari Amerika Serikat dan Israel untuk membubarkan arsenal Hezbollah, bahkan saat serangan Israel ke Lebanon terus berlangsung nyaris setiap hari.

Meski ada kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS pada 2024, yang seharusnya mengakhiri setahun lebih permusuhan lintas batas, Israel justru tetap melancarkan serangan. Konflik sebelumnya memang sempat melemahkan Hezbollah, dan perjanjian gencatan senjata itu mewajibkan pemerintah Lebanon untuk melucuti persenjataan kelompok tersebut. Militer Lebanon sendiri bulan lalu mengklaim telah menuntaskan fase pertama dari lima tahap rencana, yang mencakup area antara Sungai Litani dan perbatasan selatan dengan Israel. Kini, fase kedua menyasar wilayah antara Sungai Litani dan Sungai Awali, sekitar 40 kilometer selatan Beirut.

Namun, rencana ini tak berjalan mulus. Hezbollah, melalui pemimpinnya Naim Qassem, menolak keras upaya pelucutan senjata di utara Sungai Litani. Qassem menyebut langkah pemerintah ini sebagai "dosa besar" yang justru melayani tujuan agresi Israel. Ia menegaskan, pihaknya memahami perjanjian gencatan senjata hanya berlaku "eksklusif di selatan" sungai tersebut. Seruan agar pemerintah Lebanon "menghentikan semua tindakan pembatasan senjata" juga dilontarkan Qassem, menuding "konsesi berturut-turut" pemerintah ikut memicu serangan Israel.

Penolakan Hezbollah ini muncul bersamaan dengan serangan terbaru Israel di Lebanon selatan, termasuk menghantam bus di Hanin dan mobil di Talloussah, yang menewaskan sedikitnya dua orang. Militer Israel mengonfirmasi serangan di Talloussah, menargetkan pejuang Hezbollah yang berupaya membangun kembali infrastruktur kelompok itu.

Situasi ini jelas memperparah ketegangan di Lebanon. Selain serangan yang tak kunjung berhenti, Israel juga masih menduduki lima wilayah di Lebanon, menghambat upaya rekonstruksi desa-desa perbatasan yang hancur dan mencegah puluhan ribu pengungsi kembali ke rumah mereka. Data pemerintah Lebanon menunjukkan, lebih dari 370 orang telah tewas akibat serangan Israel.

Analisisnya, Lebanon kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, pemerintah berupaya memenuhi komitmen internasional, di sisi lain, Hezbollah sebagai kekuatan dominan menolak dan melihatnya sebagai ancaman eksistensial. Konflik internal ini diperparah oleh intervensi eksternal dan serangan Israel yang terus menerus. Tanpa solusi komprehensif yang melibatkan semua pihak, stabilitas Lebanon akan terus terancam, dengan masyarakat sipil yang menanggung beban paling berat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook