Ribuan orang memadati Stadion Heliodoro Rodriguez Lopez, Santa Cruz, Tenerife, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Jesus De Miguel. Penyerang CD Tenerife itu meninggal dunia setelah mengalami benturan keras dengan kiper Andorra, Jesus Owono, dalam pertandingan kasta kedua Spanyol pada Senin lalu. Suasana haru menyelimuti upacara peringatan yang digelar pada Sabtu tersebut.
Para pemain Tenerife datang mengenakan pakaian serba hitam. Di atas mereka, tergantung spanduk bertuliskan 'Eterno Demi 9'—sebuah penghormatan untuk sang striker yang akrab disapa Demi itu. Kapten tim, Enric Gallego, yang mencoba menyampaikan pidato perpisahan, terlihat berulang kali menahan tangis. Ia mengenang De Miguel sebagai sosok yang tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan memilih berjalan kaki pulang saat mobilnya mogok.
Duka mendalam ini tidak hanya dirasakan keluarga dan rekan setim. Klub telah berjanji akan menanggung biaya hidup putri De Miguel yang masih berusia 18 bulan, Carla, hingga dewasa. Solidaritas juga datang dari rival abadi mereka, kelompok suporter UD Las Palmas, Ultra Naciente, yang meletakkan karangan bunga di lapangan sebagai bentuk penghormatan.
Di sisi lain, tragedi ini memicu pertanyaan besar terkait respons otoritas sepak bola Spanyol. Serikat pemain (AFE) mengungkapkan bahwa para pesepakbola lintas kasta sepakat menunda pertandingan karena belum siap secara emosional. Isu kesehatan mental dan perlunya waktu berkabung bagi para pemain kini menjadi sorotan tajam di tengah duka yang mendalam.