Kabar penting datang dari hubungan geopolitik dunia. Perjanjian New START, satu-satunya pakta kendali senjata nuklir tersisa antara Amerika Serikat dan Rusia, resmi berakhir pada Kamis ini. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran global akan potensi perlombaan senjata nuklir baru yang bisa mengancam stabilitas dunia.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan penyesalannya atas berakhirnya perjanjian yang telah berlaku sejak 2010 itu. Ia menegaskan, meski tanpa pakta ini, Rusia akan tetap menjadi kekuatan nuklir yang bertanggung jawab, namun tetap mengutamakan kepentingan nasionalnya. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga menyuarakan kekecewaan, menyebut New START sangat penting untuk menjaga stabilitas strategis global.
Perjanjian New START sebelumnya membatasi kedua negara untuk memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang siap tempur. Pakta ini juga memungkinkan inspeksi langsung lokasi nuklir masing-masing, meski sempat terhenti karena pandemi COVID-19 dan belum dilanjutkan. Berakhirnya perjanjian ini disebabkan proposal Rusia untuk memperpanjangnya setahun secara sukarela tidak pernah direspons formal oleh Presiden AS kala itu, Donald Trump. Trump sendiri menginginkan Tiongkok ikut dalam perundingan, namun Beijing menolak karena jumlah hulu ledaknya jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia.
Analis hubungan internasional menilai, tamatnya New START menandai berakhirnya era kendali senjata nuklir yang telah berlangsung lebih dari setengah abad. Tanpa batasan ini, ada kekhawatiran bahwa AS dan Rusia—dua kekuatan nuklir terbesar di dunia—bisa bebas mengembangkan atau menimbun lebih banyak hulu ledak, memicu ketidakpastian keamanan global. Ini menjadi tantangan besar bagi upaya denuklirisasi dan stabilitas dunia di masa depan.