Polisi Nasional Haiti (PNH) mengonfirmasi bahwa Mathias Saintil, pemimpin geng Boston, tewas dalam baku tembak dengan aparat keamanan. Saintil, yang memimpin geng di kawasan kumuh Cite Soleil, Port-au-Prince, dilaporkan terkena beberapa peluru dalam operasi penegakan hukum dan meninggal di rumah sakit.
Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime menyambut kabar ini dengan pernyataan di media sosial: "Satu pemimpin geng berkurang. Pertempuran untuk membebaskan negara dari cengkeraman bandit terus berlanjut dengan tekad. Para geng tidak akan bisa tidur!"
Haiti telah bergulat dengan lonjakan kekerasan geng selama bertahun-tahun, terutama setelah pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada 2021 yang memicu krisis politik berkepanjangan. Menurut PBB, sekitar 90 persen Port-au-Prince kini dikuasai geng, dengan setidaknya 26 kelompok bersenjata beroperasi di ibu kota. Situasi ini menciptakan krisis kemanusiaan yang memburuk, dengan 1,4 juta orang mengungsi dan 1.123 warga tewas dalam kekerasan antara Juli-Oktober tahun ini.
Kematian Saintil adalah pukulan bagi operasi geng, namun tantangan besar tetap ada. Pasukan Penekan Geng (GSF) internasional yang dikirim untuk menstabilkan Haiti masih menghadapi kendala sumber daya dan personel, serupa dengan pendahulunya. Masyarakat internasional didesak untuk memenuhi komitmen pendanaan agar upaya pemulihan keamanan Haiti dapat berjalan efektif.