Moskow, Rusia – Serangan drone Ukraina kembali menghantam infrastruktur energi Rusia. Kali ini, terminal laut Tamanneftegaz di wilayah Krasnodar, Rusia selatan, menjadi sasaran. Akibat serangan tersebut, satu orang dilaporkan tewas dan kebakaran besar terjadi di area penyimpanan bahan bakar.
Gubernur setempat, Veniamin Kondratyev, mengonfirmasi insiden itu pada Sabtu (7/12) melalui Telegram. Ia menyebutkan, puing-puing drone memicu api di sebagian fasilitas di distrik Temryuk. Meski demikian, ia tidak merinci secara detail. Media Rusia melaporkan, terminal yang rusak adalah fasilitas ekspor di Laut Hitam yang biasa menangani minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas cair.
Di sisi lain, Dinas Keamanan Ukraina (SBU) langsung mengklaim serangan ini. Mereka menyebut Tamanneftegaz sebagai kompleks transshipment hidrokarbon cair terbesar di Rusia selatan. SBU memastikan serangan berhasil mengenai lima tangki bahan bakar dan dua stasiun pemuatan minyak, menyebabkan kobaran api di depot kargo dan gudang penyimpanan.
Serangan ini merupakan bagian dari kampanye besar-besaran Ukraina yang terus mengincar infrastruktur energi Rusia, termasuk kilang, depot, dan pipa minyak di wilayah jauh di dalam negeri. Taktik ini jelas membuat ekonomi Rusia terus tertekan di tengah perang yang sudah berlangsung lebih dari empat tahun.
Menariknya, sehari sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa serangan Ukraina 'menyebabkan kerusakan' pada mereka. Namun, ia dengan percaya diri menyebut Rusia akan pulih dengan cepat dan akan meningkatkan serangan balasan terhadap infrastruktur Ukraina.
Tak berhenti di situ, militer Ukraina juga mengklaim berhasil menyerang fasilitas pemrosesan dan pemompaan minyak di dekat kota Kotovo, wilayah Volgograd. Otoritas Rusia mengonfirmasi kebakaran di kawasan industri tersebut.
Di tengah gempuran ini, ada kabar baik dari pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang diduduki Rusia. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengumumkan pasokan listrik eksternal ke pabrik tersebut telah pulih, setelah sebelumnya terputus akibat serangan beberapa hari lalu.
SBU dengan tegas menyatakan akan terus membidik sektor minyak dan gas Rusia. 'Pendapatan minyak berubah menjadi rudal, drone, dan amunisi yang digunakan untuk menyerang kota-kota Ukraina. Karena itu, SBU akan terus secara sistematis merampas sumber daya mesin perang Rusia untuk berperang,' demikian pernyataan resmi mereka.
Sementara itu, upaya perdamaian masih menemui jalan buntu. Putin baru-baru ini menolak undangan untuk bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump, yang sempat menjanjikan penyelesaian cepat perang ini, dijadwalkan akan mengikuti sesi kerja G7 bersama Zelenskyy di Prancis pada Selasa mendatang.