BELGRADE, SERBIA - Lanskap politik Serbia berubah drastis. Aleksandar Vucic, sosok yang mendominasi panggung politik negara itu selama lebih dari satu dekade, akhirnya mengakui kekalahannya dalam pemilihan parlemen dadakan dari gerakan mahasiswa yang dipimpin oleh kaum muda.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Partai Progresif Serbia (SNS) yang dipimpinnya. Berdasarkan penghitungan suara sampel, SNS hanya diproyeksikan meraih 105 kursi di parlemen beranggota 250 orang. Sementara itu, oposisi utama—Daftar Mahasiswa (Student List)—melesat dengan perolehan 135 hingga 140 kursi. Tingkat partisipasi pemilih pun tercatat sebagai yang tertinggi dalam lebih dari 30 tahun terakhir, menandakan gelombang perubahan yang masif.
"Jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilihan ini," ujar Vucic kepada para pendukungnya, seperti dikutip dari laporan internasional, Senin (1/6/2025).
Gerakan mahasiswa ini bukanlah kekuatan politik instan. Mereka lahir dari tragedi kemanusiaan: runtuhnya kanopi Stasiun Kereta Api Novi Sad pada 1 November 2024 yang menewaskan 16 orang. Insiden memilukan itu memicu kemarahan publik yang meluas, berubah menjadi protes sosial besar-besaran selama hampir dua tahun terakhir. Aliansi protes ini kemudian bertransformasi menjadi platform politik 'Daftar Mahasiswa' yang dipimpin oleh Ilija Srdanovic, seorang profesor di Fakultas Kedokteran Novi Sad.
Platform ini menjanjikan pemberantasan korupsi, depolitisasi institusi publik, dan pemulihan hak-hak warga—isu-isu yang resonan dengan kelelahan publik terhadap pemerintahan lama. Selama kampanye, Vucic sempat menyebut para demonstran—yang terdiri dari profesor universitas, dokter, dan pekerja—sebagai "pemblokir" dan menuduh mereka ingin mendestabilisasi Serbia.
Analisis Dampak: Kemenangan ini menandai berakhirnya era dominasi Vucic yang dikenal pragmatis dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan Uni Eropa, Rusia, dan China. Bagi masyarakat Serbia, hasil ini membawa angin segar harapan akan transparansi dan akuntabilitas publik, terutama terkait tragedi infrastruktur yang memicu protes. Namun, tantangan ke depan tidak ringan: pemerintahan baru harus mampu mengelola ekspektasi tinggi publik sekaligus menavigasi tekanan geopolitik di kawasan Balkan yang masih panas.