DUA DAN SULLIVAN DI ALASKA, SKANDAL ATAU STRATEGI? - Berita Dunia
← Kembali

DUA DAN SULLIVAN DI ALASKA, SKANDAL ATAU STRATEGI?

Foto Berita

JAKARTA - Kontroversi mewarnai pemilihan Senat Alaska jelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Kandidat Demokrat Mary Peltola membantah terlibat dalam dugaan skema yang menyebabkan dua pria bernama Dan Sullivan maju dalam bursa pencalonan. Peltola menegaskan tidak mengetahui keberadaan kandidat lain selain dirinya dan petahana dari Partai Republik, Dan S Sullivan.

"Saya hanya ingin meluruskan," ujar Peltola kepada pemilih. "Saya tidak tahu tentang kandidat lain di surat suara selain saya dan petahana. Saya tidak tertarik menipu pemilih."

Pernyataan ini muncul setelah laporan The New York Times mengungkap dugaan keterlibatan tim Peltola dan Komite Senator Demokrat (DSCC) dalam merekrut Dan J Sullivan, seorang pensiunan guru, sebagai kandidat 'pengganggu'. Laporan tersebut mengklaim telah melihat pesan teks dan mewawancarai 12 orang terkait rencana tersebut, meski BBC belum memverifikasi independen.

Situasi memanas setelah Gubernur Alaska dari Partai Republik memerintahkan penyelidikan resmi. Departemen Kehakiman AS dilaporkan mulai mengeluarkan surat panggilan (subpoena) terhadap pejabat Demokrat yang diduga terlibat, seperti dilansir CBS News. Hingga Jumat pagi, belum ada dakwaan resmi.

Di sisi lain, pemerintahan Trump mengajukan gugatan federal untuk mencegah sertifikasi hasil jika Dan S Sullivan kalah. Mereka berargumen kehadiran dua nama identik berpotensi membingungkan pemilih. Gugatan ini diperbarui pekan ini dengan mengutip laporan Times dan pengumuman investigasi gubernur.

Analisis Dampak: Persaingan di Alaska ini menjadi salah satu yang paling ketat dan bisa menjadi penentu kendali Senat. Bagi masyarakat, kasus ini menyoroti kerentanan sistem demokrasi terhadap manipulasi surat suara. Munculnya dua nama identik bukan sekadar kebetulan, melainkan indikasi upaya sistematis untuk memecah suara. Masyarakat diminta lebih jeli mencermati profil kandidat, bukan sekadar nama, untuk menghindari salah pilih akibat kebingungan yang disengaja. Transparansi penyelidikan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik menjelang hari pencoblosan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook