China mencatatkan lonjakan ekspor yang signifikan pada September lalu. Data terbaru menunjukkan ekspor Negeri Tirai Bambu tumbuh 36,3 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 447,18 miliar dolar AS. Ini merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak 2021, melampaui pertumbuhan Agustus yang sebesar 25 persen.
Sektor teknologi menjadi motor utama pertumbuhan ini. Ekspor semikonduktor meroket lebih dari 108 persen, sementara pengiriman mesin pemrosesan data otomatis naik hampir 55 persen. Impor juga ikut meningkat 31 persen, naik dari 28,2 persen pada bulan sebelumnya.
Negara-negara ASEAN menjadi pasar ekspor terbesar China dengan kenaikan lebih dari 52 persen ke angka 81,7 miliar dolar AS. Ekspor ke Uni Eropa dan Amerika Serikat juga mencatatkan pertumbuhan positif, masing-masing naik 25,3 persen dan 39,6 persen.
Meski ekspor kuat, ekonomi China masih menghadapi tantangan domestik seperti populasi yang menurun, pasar properti yang lesu, dan konsumsi rumah tangga yang lemah. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China sebesar 4,5 persen pada 2026, yang akan menjadi yang terendah sejak 1990 di luar masa pandemi.
Analisis Dampak: Lonjakan ekspor ini memberikan napas lega bagi perekonomian global yang sedang lesu. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya pelaku usaha dan investor, data ini menunjukkan bahwa permintaan global terhadap barang teknologi masih sangat tinggi. Hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi sektor ekspor dalam negeri, terutama komoditas yang menjadi bahan baku industri teknologi China. Namun, ketergantungan China pada ekspor juga mengindikasikan bahwa konsumsi domestik mereka belum pulih sepenuhnya, yang bisa berdampak pada permintaan impor dari Indonesia ke depan.