Hasil pemilu kongres Amerika Serikat yang menghantam Partai Republik milik Donald Trump ternyata membawa efek domino yang sangat terasa di Israel. Kekalahan telak ini bukan sekadar masalah internal AS, melainkan sinyal penolakan keras dari pemilih Amerika terhadap kebijakan luar negeri yang terlalu erat dengan agenda kanan Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini berada di posisi yang canggung. Selama ini, ia membangun narasi bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin yang mampu menjaga hubungan 'istimewa' dengan Gedung Putih. Namun, strategi itu justru berbalik arah. Dukungan terbuka Trump dan Netanyahu terhadap satu sama lain jelang pemilu justru menuai hasil pahit. Koalisi kanan Netanyahu hanya meraih 53 kursi di parlemen, jauh dari syarat minimal 61 kursi untuk membentuk pemerintahan. Di sisi lain, Partai Republik kehilangan kendali atas DPR dan Senat.
Analis politik menilai fenomena ini sebagai 'tsunami politik' yang menolak Trumpisme secara total. Isu kebijakan luar negeri, khususnya perang melawan Iran dan dukungan tanpa batas untuk Israel, menjadi faktor krusial. Masyarakat Amerika mulai mengaitkan bantuan miliaran dolar AS ke Israel dengan kondisi ekonomi domestik mereka yang sulit.
Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS percaya bahwa Israel ikut mempengaruhi keputusan Trump untuk memicu perang mahal dengan Iran. Hubungan erat Washington-Tel Aviv yang dulu dianggap aset, kini berubah menjadi beban politik bagi banyak pemilih. Dampaknya bagi masyarakat global? Ketidakstabilan politik di dua negara ini bisa memperlambat proses perdamaian, sementara bantuan militer AS ke Israel yang mencapai 3,8 miliar dolar per tahun kini dipertaruhkan di bawah tekanan politik internal yang baru.