Jakarta, Senin – Ketegangan baru muncul di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, di sisi lain, Israel justru bersikeras mempertahankan pendudukan militernya di Lebanon. Hal ini diungkapkan oleh Jason Campbell, analis dari Middle East Institute, yang menyoroti perbedaan tujuan yang semakin lebar antara AS dan Israel sejak perang dimulai.
Menurut Campbell, sejak awal agresi, tujuan strategis Washington dan Tel Aviv sudah mulai berbeda. AS cenderung mendorong de-eskalasi dan stabilitas regional, sementara Israel fokus pada keamanan perbatasan dengan cara memperluas zona pendudukan. "Ada perbedaan fundamental antara tujuan AS dan Israel di kawasan ini," ujar Campbell kepada Al Jazeera.
Jika kesepakatan AS-Iran benar-benar terwujud, ini akan menjadi pukulan diplomatik bagi Israel yang selama ini menganggap Iran sebagai ancaman utama. Di sisi lain, sikap keras Israel di Lebanon berpotensi memicu kembali konfrontasi dengan Hizbullah, yang selama ini didukung penuh oleh Teheran. Bagi masyarakat Indonesia, dinamika ini penting karena berdampak langsung pada harga minyak dunia dan stabilitas keamanan di kawasan yang menjadi tujuan TKI.