Aleksandar Vucic, Presiden Serbia, tengah jadi sorotan. Meski dihantam gelombang protes anti-pemerintah yang tak kunjung reda selama dua tahun, ia tetap kokoh memegang kendali. Siapa sebenarnya Vucic, dan bagaimana ia bisa begitu kuat?
Jejak politik Vucic ternyata berawal dari insiden kerusuhan sepak bola legendaris di Stadion Maksimir, Zagreb, pada 1990. Saat itu, Vucic, seorang mahasiswa hukum, menjadi saksi mata langsung bentrokan brutal antarsuporter Red Star Belgrade dan Dinamo Zagreb. Bagi Vucic, kerusuhan itu bukan sekadar hooliganisme biasa, melainkan cerminan nyata perpecahan etnis yang akan memicu perang Yugoslavia.
Karier politiknya dimulai dengan kelompok ultra-nasionalis yang menyerukan “Greater Serbia.” Ia bahkan pernah melontarkan ancaman keras, tak lama setelah genosida Srebrenica pada 1995. Namun, seiring waktu, Vucic bergeser, mendirikan partai yang dianggap lebih sentris. Ia sempat mengakui pembantaian Srebrenica sebagai “kejahatan mengerikan,” namun tegas menolak jika disebut genosida dan menentang hari peringatan PBB.
Sejak menjabat Perdana Menteri (2014-2017) dan kini Presiden (sejak 2017), Vucic semakin mengonsolidasikan kekuasaan, bahkan membatasi kebebasan demokrasi. Berbagai tuduhan, mulai dari dugaan keterlibatan preman sepak bola hingga korupsi di lingkaran kekuasaan, terus membayangi kepemimpinannya. Di panggung internasional, Vucic piawai memainkan perannya: ia berupaya membawa Serbia bergabung dengan Uni Eropa, namun di sisi lain, juga mempererat hubungan dengan Tiongkok dan Rusia.
Situasi ini menunjukkan dilema Serbia. Di satu sisi, ada harapan integrasi dengan Barat, namun di sisi lain, kekuatan politik yang terpusat pada Vucic dan bayang-bayang masa lalu nasionalisnya menjadi penghalang. Gelombang protes yang terus bergulir adalah bukti kuat bahwa masyarakat menuntut transparansi, demokrasi, dan akuntabilitas. Kepiawaian Vucic menyeimbangkan hubungan dengan kekuatan global juga mengindikasikan strategi pragmatis untuk mempertahankan pengaruhnya, sekaligus menegaskan posisi Serbia yang unik di kancah geopolitik Eropa Timur.