JAKARTA — Hasil hitung cepat (exit poll) Pemilu Israel menunjukkan tidak ada pemenang mutlak dalam kontestasi yang disebut-sebut sebagai pemilu paling krusial dalam sejarah negara itu. Data sementara yang dirilis setelah tempat pemungutan suara ditutup pada pukul 22.00 waktu setempat (20.00 GMT) memperlihatkan persaingan ketat antara blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot.
Menurut proyeksi exit poll, blok Netanyahu diprediksi meraih 50 kursi, sementara blok Eisenkot mengantongi 52 hingga 53 kursi. Untuk membentuk pemerintahan mayoritas, sebuah blok setidaknya harus mengantongi 61 kursi dari total 120 kursi Knesset. Sementara itu, partai-partai Arab diproyeksikan meraup 18 kursi secara kolektif.
Partisipasi pemilih tercatat mencapai 74,3 persen hingga pukul 20.00 waktu setempat, naik dibandingkan Pemilu 2022 yang sebesar 70,63 persen. Komite Pemilu Pusat Israel menolak permintaan Partai Likud milik Netanyahu untuk memperpanjang jam voting. Hasil resmi baru akan diumumkan pada 4 November mendatang, delapan hari setelah pemungutan suara, dengan hasil awal diperkirakan muncul Rabu dan penghitungan final pada Jumat.
Analisis Dampak: Pemilu ini menjadi ajang referendum bagi kepemimpinan Netanyahu, terutama terkait penanganan serangan 7 Oktober 2023 dan konflik berkepanjangan di Gaza. Ketidakpastian hasil membuat proses koalisi berpotensi alot dan berlarut-larut. Bagi masyarakat Israel, kebuntuan politik ini bisa memperlambat pengambilan kebijakan strategis, termasuk urusan keamanan dan pemulihan ekonomi. Sementara di tingkat global, hasil pemilu akan menjadi sinyal arah kebijakan luar negeri Israel, khususnya terkait kelanjutan perang di Gaza yang telah menuai sorotan tajam dunia internasional.