Di tengah ketegangan yang terus membayangi hubungan Amerika Serikat dan Iran, sebuah pernyataan mengejutkan datang dari diplomat tinggi Iran, Abbas Araghchi. Ia menegaskan, AS sama sekali tidak menuntut penghentian total pengayaan uranium dalam perundingan nuklir terbaru. Lantas, benarkah diplomasi masih jadi pilihan utama di tengah gertakan militer yang tak henti?
Dalam wawancara dengan jaringan televisi AS MS NOW, Araghchi menekankan bahwa Iran siap untuk berdamai dan berdiplomasi dengan Washington. Ia meyakini, solusi diplomatik sangat mungkin dicapai karena program nuklir Iran bukan untuk tujuan militer. Namun, kritiknya tajam terhadap pengerahan militer AS besar-besaran di Timur Tengah, termasuk dua kapal induk dan puluhan jet tempur, yang disebutnya ātidak perlu dan tidak membantuā. Menurutnya, opsi militer hanya akan memperumit situasi dan membawa konsekuensi bencana bagi seluruh kawasan dan komunitas internasional.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump, yang saat itu menjabat, sempat mempertimbangkan opsi serangan terbatas untuk mendongkrak posisi tawar Washington. Trump bahkan berulang kali mengeluarkan ancaman āsangat sulitā dan ātraumatisā, serta memberikan deadline kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan. Meskipun demikian, Araghchi memperingatkan bahwa Iran adalah bangsa yang bangga dan hanya akan merespons ābahasa hormatā. Sejarah menunjukkan, berbagai upaya ASāmulai dari perang, sanksi, hingga seranganāgagal melumpuhkan Iran.
Patut diingat, hubungan AS-Iran sempat memanas hebat. AS, bersama Israel, pernah melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran pada Juni tahun lalu. Klaim Trump dan Benjamin Netanyahu bahwa serangan itu āmelenyapkanā program nuklir Iran belum bisa diverifikasi secara independen. Status program nuklir Iran sendiri masih menjadi tanda tanya. Monitor internasional belum mengkonfirmasi keberadaannya, dan publik tidak tahu pasti lokasi uranium yang diperkaya tinggi milik Iran. Teheran bersikukuh pada haknya untuk melakukan pengayaan uranium, menyatakan ini tidak melanggar komitmen dalam Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir.
Konflik atau ketegangan yang berkelanjutan antara kedua negara ini membawa dampak serius tidak hanya bagi stabilitas regional Timur Tengah, tetapi juga bagi pasar global. Gejolak di kawasan ini seringkali memicu kenaikan harga minyak dunia, mengganggu jalur pelayaran vital, dan berpotensi menyeret negara-negara lain ke dalam konflik yang lebih luas. Solusi damai dan diplomasi yang tulus menjadi kunci untuk mencegah eskalasi yang bisa merugikan banyak pihak.