Pemerintah Amerika Serikat melalui utusan khususnya dikabarkan mengajukan tuntutan tertulis yang mengharuskan Hamas dan semua kelompok bersenjata Palestina di Jalur Gaza untuk melucuti total persenjataan mereka. Langkah ini, yang disodorkan oleh "Dewan Perdamaian" bentukan Presiden Donald Trump dalam pertemuan di Kairo pertengahan Maret lalu, disebut sebagai upaya untuk memastikan "penyerahan politik" Hamas.
Proposal kontroversial ini adalah bagian dari rencana 20 poin Trump yang berpusat pada fase kedua kesepakatan "gencatan senjata" Gaza yang dimediasi AS pada Oktober lalu. Dalam kerangka kerja AS, pasukan Israel yang kini menduduki lebih dari separuh wilayah Gaza akan ditarik mundur, dan proyek rekonstruksi baru bisa dimulai setelah Hamas serta kelompok bersenjata lainnya menyerahkan semua senjata mereka.
Meski utusan AS untuk Gaza, Nickolay Mladenov, mendesak faksi Palestina untuk menerima kerangka ini "tanpa penundaan" dan mengklaim adanya "timbal balik" antara pelucutan senjata dan penarikan pasukan, analisis justru berkata lain. Wesam Afifa, seorang pengamat politik di Gaza, menyebut dokumen ini lebih mirip "pesan ancaman" ketimbang inisiatif negosiasi. Afifa menyoroti bahwa pendekatan baru AS ini mengabaikan kewajiban AS dan Israel dari perjanjian sebelumnya, dan malah memaksakan tuntutan pelucutan senjata total, bahkan senjata pribadi, sebagai syarat mutlak rekonstruksi.
Analisis dan Dampak:
Para pengamat menilai, proposal AS ini bukan sekadar solusi damai, melainkan ultimatum sepihak yang bertujuan memaksakan realitas baru di lapangan. Afifa bahkan menyebut Gaza "dipaksa membayar tagihan politik" untuk konflik regional yang lebih luas yang melibatkan Iran dan Lebanon. Hal ini mengindikasikan bahwa krisis Gaza dimanfaatkan sebagai alat untuk menyerang "poros regional" tersebut. Jika benar, ini berarti penderitaan warga Gaza, yang kini hidup di tengah reruntuhan akibat perang dahsyat dan kampanye militer Israel yang disebut "genosida" dengan puluhan ribu korban jiwa, menjadi makin kompleks. Tuntutan ini bisa memperpanjang konflik dan menghambat upaya perdamaian yang sejati, karena faksi Palestina kemungkinan besar akan menolak menyerah total. Tawaran amnesti dan investasi dari AS untuk Hamas jika mereka menyerahkan senjata, terlihat seperti 'gula-gula' yang sulit diterima dalam kondisi yang begitu menekan.