Konflik di Laut Hitam kian memanas dan mulai menyasar sektor pangan global. Serangan terhadap kapal dagang pengangkut gandum dan jagung dari Rusia serta Ukraina memicu kekhawatiran lonjakan harga pangan dunia, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor.
Dalam beberapa bulan terakhir, serangan drone tercatat menghantam sedikitnya sembilan kapal dagang di lepas pantai Rumania dan Bulgaria—dua negara anggota NATO. Eskalasi ini dinilai sebagai uji coba Moskow terhadap solidaritas aliansi Barat, sekaligus memunculkan pertanyaan apakah Pasal 5 NATO tentang pertahanan kolektif bisa diaktifkan.
Dampaknya terasa nyata. Karena pelabuhan utama Ukraina di Laut Hitam lumpuh, Kyiv terpaksa mengalihkan ekspor lewat jalur alternatif, salah satunya koridor Sungai Danube. Namun jalur ini pun tak luput dari serangan. Data perusahaan keamanan maritim Ambrey menunjukkan serangan di koridor Danube melonjak 3,7 kali lipat pada kuartal Juli-September dibanding paruh pertama 2026. Porsi kargo Danube di pelabuhan Ukraina bahkan melesat dari sekitar 10 persen menjadi 74 persen pada Agustus 2026.
Ekspor gandum dan minyak nabati merupakan tulang punggung ekonomi Ukraina, menyumbang sekitar 40 persen total ekspor barang pada paruh pertama tahun ini. Serangan terhadap fasilitas pangan dan kapal pengangkut komoditas ini pun berisiko memperparah krisis pangan di negara-negara Afrika dan Timur Tengah yang selama ini mengandalkan pasokan dari kawasan tersebut.