Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) geram dan menuntut pencabutan laporan Financial Times. Pasalnya, media tersebut menuduh broker Sekretaris Pertahanan Pete Hegseth berupaya menanam investasi besar-besaran di perusahaan senjata sesaat sebelum serangan ke Iran pecah. Tuduhan ini memicu pertanyaan serius tentang etika pejabat di tengah gejolak geopolitik.
Menurut laporan Financial Times, seorang manajer kekayaan yang bekerja untuk Sekretaris Hegseth menghubungi BlackRock untuk investasi jutaan dolar di dana terkait pertahanan. Kontak ini terjadi hanya beberapa minggu menjelang dimulainya perang. Walaupun investasi tersebut pada akhirnya tidak terlaksana – karena dana itu belum tersedia untuk dibeli – isu ini telah menjadi sorotan tajam. Pentagon, melalui juru bicaranya Sean Parnell, membantah keras tuduhan tersebut, menyebutnya "sepenuhnya palsu dan dibuat-buat", serta merupakan "fitnah tak berdasar dan tidak jujur untuk menyesatkan publik."
Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya pengawasan terhadap transaksi keuangan yang "tepat waktu" di pasar modal, yang seringkali memicu spekulasi adanya pihak-pihak dengan informasi orang dalam yang mencoba mengambil keuntungan dari rencana perang. Meskipun investasi yang dituduhkan tidak jadi, potensi konflik kepentingan tetap menjadi kekhawatiran publik. Etika dan transparansi pejabat tinggi, terutama di bidang pertahanan, adalah krusial untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Menariknya, terlepas dari spekulasi profit, nilai iShares Defense Industrials Active ETF justru anjlok hampir 13 persen sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, padahal sebelumnya sempat naik 25 persen dalam setahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa spekulasi keuntungan dari perang tidak selalu akurat. Hingga kini, Al Jazeera belum dapat memverifikasi secara independen laporan Financial Times, dan pihak-pihak terkait seperti Morgan Stanley serta BlackRock memilih bungkam atau belum memberikan tanggapan.