Kelompok militan Houthi kembali memanaskan situasi Timur Tengah. Juru bicara militer mereka, Yahya Saree, mengklaim telah melancarkan serangan presisi menggunakan rudal balistik dan drone ke fasilitas raksasa minyak Aramco di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu lalu.
Meski Houthi menyebut serangan itu memicu kebakaran besar, pihak berwenang Saudi maupun manajemen Aramco sampai sekarang masih bungkam dan belum memberi konfirmasi resmi terkait penyebab insiden tersebut. Namun, saksi mata melaporkan melihat kepulan asap tebal dan api membubung tinggi di dekat lokasi kejadian.
Serangan ini adalah buntut dari eskalasi konflik yang makin memanas sejak gencatan senjata rapuh pada 2022 silam runtuh pada Juli lalu. Tidak tinggal diam, koalisi pimpinan Saudi dikabarkan melancarkan operasi balasan besar-besaran. Mereka mengklaim telah menargetkan ratusan pejuang Houthi dan melumpuhkan puluhan kendaraan militer di front Tor al-Baha dan Taiz.
Dampak bagi masyarakat sipil sangat memprihatinkan. Sejak pertempuran kembali pecah, ratusan ribu orang terpaksa mengungsi. Situasi ini juga mengancam stabilitas jalur pelayaran global di Selat Bab al-Mandeb, yang merupakan urat nadi pengiriman minyak dunia. Ketegangan ini diprediksi bakal terus meningkat seiring kedua belah pihak yang sama-sama keras.