Jakarta, Media Online — Investigasi terbaru dari Lighthouse Reports mengungkap praktik kontroversial VFS Global, perusahaan raksasa pemroses visa dunia. Laporan tersebut mendapati bahwa VFS Global meraup keuntungan miliaran dolar dari jutaan pemohon visa di negara-negara Global South, termasuk Indonesia. Ironisnya, keuntungan ini tetap mengalir deras meski banyak permohonan visa yang akhirnya ditolak.
Praktik ini memicu pertanyaan serius: apa yang terjadi ketika negara-negara maju melimpahkan proses penerbitan visa ke perusahaan swasta? VFS Global, yang menjadi mitra resmi berbagai kedutaan besar, justru diuntungkan dari sistem yang dianggap mahal, membuat frustrasi, dan penuh ketidakpastian. Biaya layanan yang dibebankan kepada pemohon seringkali tidak sebanding dengan hasil akhir, menciptakan beban ekonomi tambahan bagi masyarakat dari negara berkembang.
Dampaknya sangat terasa bagi calon pelancong, pelajar, dan pekerja migran. Mereka tidak hanya harus menghadapi proses yang rumit, tetapi juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya administrasi yang tidak dapat dikembalikan, bahkan saat pengajuan mereka ditolak. Sistem ini, menurut para pengamat, menciptakan ketidakadilan akses mobilitas global, di mana kemampuan finansial menjadi penentu utama, bukan kelayakan dokumen.