HARGA EMAS ANTENG SAAT PERANG MERAJALELA, ADA APA? - Berita Dunia
← Kembali

HARGA EMAS ANTENG SAAT PERANG MERAJALELA, ADA APA?

Foto Berita

Ketika konflik AS-Israel di Iran memasuki hari ke-18, pasar global diguncang berbagai ketidakpastian. Harga minyak mentah melonjak di atas 100 dolar AS per barel setelah Selat Hormuz sempat dinyatakan 'ditutup', dan pasar saham pun menunjukkan gejala lesu. Namun, di tengah gejolak ini, ada satu aset yang justru bertingkah aneh: harga emas, yang biasanya jadi 'tempat aman' saat krisis, malah anteng di kisaran 5.000 dolar AS per ounce.

Fenomena ini tentu jadi pertanyaan besar. Analis dan ekonom, seperti Remi Bourgeot dan James Meadway, menyebutkan beberapa faktor penyebabnya. Salah satunya, dolar AS kini dianggap lebih menarik karena spekulasi bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve) bisa saja menunda pemotongan suku bunga atau bahkan menaikkannya demi mengerem inflasi. Dolar yang perkasa ini membuat investor lebih melirik aset berbasis dolar, ketimbang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Selain itu, harga emas memang sudah meroket jauh sebelum perang ini pecah. Ini membuat reaksi pasar terhadap konflik Iran-AS kali ini tidak seganas sebelumnya, berbeda jauh ketika invasi Rusia ke Ukraina terjadi yang langsung membuat harga emas melambung tinggi. Saat itu, kekhawatiran bank sentral global mendorong China dan beberapa negara lain berlomba membeli emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Dampaknya bagi kita? Kenaikan harga minyak berarti ongkos transportasi dan logistik bisa makin mahal, berujung pada naiknya harga barang kebutuhan sehari-hari. Ini tentu memicu tekanan inflasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Sementara itu, kestabilan emas yang 'tidak biasa' ini mengindikasikan pergeseran perilaku investor, yang mungkin melihat dolar AS sebagai tempat berlindung yang lebih aman saat ini. Ini menunjukkan betapa rumitnya interaksi antara geopolitik, kebijakan moneter bank sentral, dan kondisi ekonomi global yang pada akhirnya memengaruhi kantong kita semua.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook