Bos FIFA, Gianni Infantino, kembali bikin geger jagat sepak bola internasional. Ia secara mengejutkan mengusulkan agar larangan Rusia dari semua kompetisi global dicabut. Usulan ini sontak disambut hangat Kremlin, tapi di sisi lain, bikin Ukraina murka besar.
Infantino berdalih, larangan yang sudah berjalan sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 itu "tidak mencapai apa-apa" dan justru "menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian". Ia bahkan berharap anak-anak muda Rusia bisa kembali bermain bola di Eropa, beranggapan ini akan membantu. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, langsung semringah. Menurutnya, sudah saatnya hak-hak pesepak bola dan tim nasional Rusia dipulihkan penuh.
Namun, di Kyiv, ucapan Infantino ini dianggap "tidak bertanggung jawab" dan "kekanak-kanakan" oleh Menteri Olahraga Ukraina Matvii Bidnyi. Ia mengingatkan, lebih dari 650 atlet dan pelatih Ukraina telah tewas akibat agresi Rusia. Senada, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyebut 679 anak Ukraina tak akan pernah bisa bermain bola lagi karena dibunuh Rusia. Mereka bersikeras, larangan itu harus tetap berlaku selama Rusia terus membunuh warga Ukraina dan menegaskan bahwa mengusulkan pencabutan larangan saat ini adalah tindakan "degenerasi moral".
Badan sepak bola Eropa, UEFA, punya wewenang untuk mencabut larangan ini. Namun, Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya menegaskan bahwa perang di Ukraina harus berakhir terlebih dahulu. UEFA sendiri sempat berencana mengizinkan tim U-17 Rusia berlaga pada 2023, tapi dibatalkan karena ancaman boikot dari belasan federasi nasional. Saat ini, tim senior Rusia hanya diizinkan bermain di pertandingan persahabatan, terakhir melawan Cile dan Peru pada November lalu.
Polemik ini menyoroti dilema kompleks antara politik dan olahraga. Di satu sisi, ada desakan untuk memisahkan politik dari lapangan hijau, terutama demi generasi muda. Namun, di sisi lain, komunitas internasional dan Ukraina sendiri melihatnya sebagai upaya mengabaikan dampak kemanusiaan dari konflik yang sedang berlangsung. Jika larangan dicabut tanpa perubahan signifikan di medan perang, kredibilitas FIFA sebagai badan olahraga global yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan bisa dipertaruhkan di mata publik. Masyarakat menanti keputusan UEFA dalam pertemuan mereka 11 Februari mendatang di Brussels, Belgia.