PASAR SEGERA BUBAR SAAT SUHU 48 DERAJAT, BEGINI NASIB WARGA INDIA - Berita Dunia
← Kembali

PASAR SEGERA BUBAR SAAT SUHU 48 DERAJAT, BEGINI NASIB WARGA INDIA

Foto Berita

Banda, India – Matahari di Banda, Uttar Pradesh, India, sudah menyengat sejak pukul 6 pagi. Suhu di distrik ini mencapai 47-48 derajat Celcius selama lebih dari seminggu, menjadikannya wilayah terpanas di India. Warga setempat, terutama petani, buruh bangunan, dan pekerja luar ruangan, terpaksa mengubah total jadwal hidup mereka.

Pasar sayur Atarra, yang biasanya ramai hingga siang, kini mulai sepi sebelum jam 8 pagi. Pedagang seperti Himanshu mengaku dagangannya seperti tomat cepat busuk karena cuaca ekstrem. "Lihat mataharinya, baru jam 6.15 pagi tapi rasanya sudah jam 8-9 pagi," keluhnya. Aktivitas pasar benar-benar mati pada pukul 10 pagi.

Para buruh seperti Pappu Verma, seorang tukang batu, membagi jam kerjanya secara ekstrem: bekerja dari jam 7 pagi hingga siang, lalu lanjut lagi jam 4 sore sampai 7 malam. Istirahat empat jam di tengah hari bukan pilihan, melainkan keharusan agar tidak jatuh sakit. "Kalau tidak, gaji saya habis untuk obat," ujarnya.

Di jalan raya, tiga perempuan pekerja jalan raya terpaksa makan siang di bawah kolong mobil tangki air untuk berlindung dari sengatan panas. Shanti Devi, salah satunya, berjalan kaki 12 kilometer setiap hari untuk bekerja. Bekal makannya hanya roti dengan bawang dan acar. "Sayur akan basi sebelum jam 12 siang," katanya. Ia menyimpulkan dengan kalimat yang menjadi motto warga Banda: 'Orang miskin tidak punya kemewahan untuk khawatir soal panas.'

Analisis Dampak: Fenomena ini bukan sekadar cuaca panas biasa. Para peneliti menyebut penambangan pasir liar dan eksploitasi air tanah di sekitar Sungai Ken membuat sungai kehilangan kemampuannya untuk mendinginkan lingkungan sekitar. Hal ini menciptakan lingkaran setan: semakin panas, semakin kering, dan semakin sulit air didapat. Dampaknya, produktivitas ekonomi anjlok, risiko kesehatan masyarakat melonjak, dan kesenjangan sosial semakin terlihat—di mana hanya orang kaya yang bisa 'berlindung' dari cuaca ekstrem.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook