Dunia kehilangan salah satu seniman besarnya. Marjane Satrapi, penulis dan ilustrator grafis novel ternama 'Persepolis', dikabarkan meninggal dunia pada usia 56 tahun. Istana Kepresidenan Prancis, Élysée, mengonfirmasi kabar duka ini pada Jumat (10/1/2025).
Penyebab kematiannya belum diumumkan secara resmi, namun kantor berita AFP mengutip sumber dari lingkaran terdekatnya. Mereka menyebut Satrapi 'meninggal karena kesedihan' lebih dari setahun setelah suaminya, Mattias Ripa, meninggal dunia.
Satrapi dikenal luas lewat karyanya, 'Persepolis', yang pertama kali terbit pada tahun 2000. Buku ini adalah memoar grafis yang mengisahkan masa kecilnya di Teheran saat dan setelah Revolusi Islam Iran 1979. Kisahnya yang jujur dan menyentuh tentang identitas, kebebasan, dan pengasingan berhasil memikat pembaca global. Delapan tahun kemudian, versi film animasi hitam-putih yang ia sutradarai bersama dinominasikan untuk Oscar kategori Film Animasi Terbaik.
Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan penghormatan, menyebut Satrapi sebagai 'seniman hebat yang mengubah masa kecil Iran menjadi dongeng universal'. Istana Élysée menambahkan, 'Dengan perspektif kekanak-kanakannya, ironi, kelembutan, dan setan-setan batinnya, sang penulis menciptakan dunia yang sangat mengharukan yang membuat pembaca merasa teridentifikasi.'
Sepanjang hidupnya, Satrapi vokal mengkritik pemerintah Iran. Ia menolak menerima penghargaan Legion d'Honneur dari Prancis tahun lalu, menuduh negara yang ia cintai itu munafik dalam kebijakannya terhadap Iran. Kepergiannya meninggalkan jejak mendalam, tidak hanya bagi dunia seni, tetapi juga bagi perjuangan kebebasan berekspresi dan hak-hak perempuan.
Dampak dan Analisis
Kepergian Satrapi menjadi pukulan telak bagi dunia sastra dan sinema. 'Persepolis' bukan sekadar buku komik biasa; ia adalah jendela yang memperlihatkan kemanusiaan di balik rezim yang represif. Bagi masyarakat Iran di diaspora, kisahnya menjadi cermin perjuangan dan kerinduan akan tanah air. Sementara itu, bagi pembaca Barat, karya Satrapi berhasil memanusiakan narasi tentang Iran yang seringkali digambarkan secara hitam-putih oleh media arus utama. Warisannya akan terus hidup sebagai simbol perlawanan terhadap sensor dan ketidakadilan melalui medium seni yang indah.