Pemerintah China resmi menerapkan regulasi paling ketat di dunia terhadap chatbot AI yang mampu menjalin interaksi emosional dengan manusia. Aturan yang berlaku 15 Juli ini menyasar aplikasi AI companionāteman, pacar, atau kekasih virtualāserta model bahasa besar apa pun yang meniru cara manusia berkomunikasi.
Langkah ini bukan tanpa alasan. China sudah lebih dulu membangun arsitektur pengawasan digital raksasa, termasuk tim pencegahan bunuh diri di platform Douyin yang bekerja 24 jam dan berhasil menggagalkan 400 kasus percobaan bunuh diri sepanjang paruh pertama 2025. Kolaborasi erat antara perusahaan teknologi dan kepolisian ini menjadi fondasi mengapa Beijing merasa perlu memperluas kontrol ke ranah hubungan personal.
Data menunjukkan skala pengguna AI companion di China sangat besarādiperkirakan 29 hingga 70 juta orang aktif setiap bulan. Angka ini melampaui total pengguna global di luar China yang mencapai 128 juta. Ketika draf aturan beredar akhir tahun lalu, diskusi publik di media sosial meledak. Peneliti dari Oxford China Policy Lab, Zilan Qian, menyebut momen itu sebagai pertama kalinya masyarakat China benar-benar peduli pada isu regulasi teknologi.
Namun, aturan ini menuai pertanyaan kritis. Apakah Beijing benar-benar melindungi warganya dari teknologi manipulatif, atau justru semakin dalam mencampuri kehidupan pribadi? Sementara itu, pertemuan Presiden Xi Jinping dan Donald Trump pekan lalu menghasilkan kesepakatan untuk membuka dialog AI baru pada akhir Novemberāmenandakan isu ini bukan hanya soal domestik, tapi juga geopolitik global.