Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kini menampar keras perekonomian negara-negara Teluk. Guncangan ini bukan isapan jempol, dengan ancaman kerugian ratusan juta dolar per hari dan bayang-bayang inflasi global mengintai. Seberapa parah dampaknya?
Serangan Iran yang terus-menerus terhadap sejumlah negara Teluk – meski dibantah sebagai target militer AS – telah menimbulkan guncangan serius. Produksi energi, pariwisata, hingga jalur pelayaran di kawasan itu porak-poranda. Para analis memproyeksikan kerugian ekonomi bisa mencapai ratusan juta dolar setiap hari.
Sektor energi menjadi yang paling terpukul. Produksi minyak sudah anjlok dari 21 juta menjadi 14 juta barel per hari hanya dalam seminggu lebih, menyusul penutupan sebagian Selat Hormuz yang krusial. Jika situasi memburuk dan kapal-kapal komersial terus menghindari selat vital ini, produksi bisa merosot drastis hingga 6 juta barel per hari. Ancaman ini bahkan disebut-sebut sebagai guncangan ekonomi terparah di Teluk sejak Perang Teluk 1990-1991.
Meski sudah berupaya diversifikasi, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Qatar, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, UEA, dan Oman masih sangat bergantung pada minyak, menyumbang hampir seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) mereka. Qatar, Kuwait, dan Bahrain menjadi yang paling rentan karena jalur ekspor mereka sangat terbatas di luar Selat Hormuz. Sementara itu, Arab Saudi dan UEA sedikit lebih beruntung berkat investasi pada infrastruktur pipa yang bisa mengalirkan minyak tanpa melewati selat tersebut.
Jika konflik berlanjut hingga akhir April, Goldman Sachs memperkirakan PDB Qatar dan Kuwait bisa terjun bebas hingga 14 persen. Dampaknya bukan hanya di Teluk, tapi juga bisa memicu kenaikan harga energi global, mengganggu rantai pasok barang, serta meningkatkan inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada impor energi dan stabilitas ekonomi global. Ini bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan ancaman nyata bagi kantong miliaran orang di seluruh dunia.